Pengalaman Pribadi Filzha – Halo teman-teman! Yuk, kenalan terlebih dahulu karena ada pepatah yang mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang.” Kenalin, nama aku Filzha Ayunda W, anak pertama dari dua bersaudara. Aku berasal dari Lumajang, kelahiran 2008, dan merupakan alumni SMK Negeri Rowokangkung. Hobi aku adalah membaca, terutama membaca novel, karena dari sana aku bisa menghilangkan stres sekaligus merangsang daya imajinasi. Aku juga sangat suka menonton film atau series, terutama dracin, yang long-dracin ya!. Selain itu, aku suka mendengarkan musik dari genre apa pun. Kayaknya aku suka semuanya, hehehe. Kalau kata Gen Z sekarang, mungkin itu namanya “tersesat di banyak fandom.”
Awal Masuk Sekolah Vokasi (SMK): Perjalanan Penuh Lika-Liku

Aku mulai masuk SMK Negeri Rowokangkung pada tahun 2023 dan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Di awal masuk sekolah, aku menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dari sana, aku mulai banyak berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dilaksanakan selama lima hari. Aku dan teman-teman waktu itu diberi materi tentang bahaya NAPZA atau narkoba, baris-berbaris, dan banyak hal lainnya.
Waktu itu, aku dan teman-teman juga diberi tantangan untuk menebak makanan yang harus dibawa berdasarkan clue yang cukup rumit. Setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah selesai, aku mulai menjalani pembelajaran di kelas. Dimulai dengan perkenalan, kemudian membentuk kelompok untuk tugas pertama di hari masuk kelas.
Aku sangat senang bisa bertemu dan berteman dengan mereka.
PERJUSA: Perkemahan Jumat Sabtu

Setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah selesai, beberapa bulan kemudian baru diadakan PERJUSA. Banyak kenangan bersama teman-teman dari kegiatan itu, jadi kangen deh ^____^
Apalagi waktu jurit malam. Jurit malam waktu itu dimulai pukul 11.30 malam dengan jumlah kelompok belasan. Aku dan teman kelompokku waktu itu berangkat pukul 12.30.
Di pos pertama, aku dan teman kelompokku diberi pertanyaan yang jawabannya ngawur. Aku lupa pertanyaannya apa, tetapi itu lucu banget, banget, banget.
Kemudian, sampai di pos 3, kami melewati makam. Dari sana, hawa terasa mencekam. Fyi, guys, kami sampai membawa bawang merah dengan alasan sebagai penangkal. Tapi kalau dipikir-pikir, memang ngaruh, kah? Namun, waktu itu ya sudah, aku ikut-ikutan, hehehe.
Kenangan yang paling wah dan paling aku ingat adalah ketika kami lari-larian dan duduk di tengah jalan raya pukul 02.00 dini hari.
Ujian Akhir Sekolah (UAS): Ujian Kolaborasi Semua Mapel

Ujian di sekolahku waktu itu sangat unik. Semua mata pelajaran berkolaborasi membuat sebuah proyek dengan tujuan untuk mengukur keterampilan peserta didik, melatih kerja sama tim, serta mengembangkan kreativitas dan inovasi tanpa harus menghadapi ujian tertulis untuk setiap mata pelajaran secara terpisah.
Ujian kolaborasi waktu itu adalah proyek menari yang harus diikuti oleh semua peserta didik. Aku kebetulan menjadi bagian dari tim proyek tersebut. Aku tidak ikut menari, tetapi mengatur jalannya proyek tersebut.
Memang sulit menjalankan sebuah acara ketika orang-orang memiliki ekspektasi tinggi kepada kita. Namun, dari situ aku banyak belajar tentang komunikasi dan kerja sama di dalam suatu tim.
Aku juga sangat terharu ketika melihat antusiasme, usaha, dan kekreatifan teman-temanku.
Masalah yang Terjadi di Lingkup Pertemanan: Terpecahnya Suatu Hubungan

Di lingkup pertemanan, kata “masalah” seolah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah hubungan. Masalah itu dapat diibaratkan sebagai “makanan sehari-hari” dalam setiap hubungan karena hampir setiap hubungan, baik itu pertemanan, keluarga, maupun percintaan, pasti pernah mengalaminya.
Dan jujur, aku dan teman-temanku juga kadang bertengkar, bahkan karena masalah sepele.
Bisa ketebak, kan, teman-teman, permasalahannya apa? Yap, betul. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, kurangnya komunikasi, hingga hilangnya rasa saling percaya sering kali menjadi pemicu munculnya konflik.
Jika tidak diselesaikan dengan baik, konflik tersebut dapat berkembang menjadi pertengkaran, saling menjauh, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.
Pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL)

PKL di percetakan menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan buatku.
Awalnya aku sempat berpikir kalau kerja di percetakan itu pasti cuma tentang cetak-mencetak saja. Tapi ternyata, setelah aku menjalani PKL di sana, aku belajar banyak hal yang sebelumnya sama sekali belum pernah aku tahu.
Di sana aku diajari mulai dari proses desain, setting file sebelum dicetak, mengoperasikan beberapa mesin, sampai proses finishing seperti potong, laminasi, dan packing.
Dari situ aku sadar kalau setiap hasil cetakan yang bagus ternyata melewati proses yang panjang dan membutuhkan ketelitian.
Selama PKL, aku juga menjadi lebih teliti, lebih sabar, dan belajar bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan.
Tempat PKL yang Nyaman dan Tidak Toxic
Yang paling aku suka dari tempat PKL ini adalah orang-orangnya. Bosnya baik, karyawan-karyawannya juga welcome banget.
Dari hari pertama aku masuk, mereka langsung menganggapku seperti keluarga sendiri. Kalau aku bingung atau melakukan kesalahan, mereka nggak pernah marah, tetapi malah mengajariku pelan-pelan sampai aku benar-benar paham.
Suasana kerjanya juga seru, jadi aku betah meskipun pekerjaannya kadang cukup berat. Biasanya sebulan sekali kami juga keluar bareng, cuma buat makan-makan dan ngobrol santai.
Lika-Liku Selama Menjalani PKL
Selama PKL tentu nggak selalu berjalan mulus. Aku sering lembur karena pekerjaan sedang banyak, bahkan beberapa kali harus masuk shift malam.
Jujur, awalnya aku kaget karena belum pernah bekerja dengan jam seperti itu. Yang paling aku ingat adalah ketika aku mendapat jadwal shift malam selama dua minggu berturut-turut.
Ditambah harus sering lembur, badan rasanya capek banget. Sampai pernah ada satu momen aku nangis karena benar-benar lelah dan merasa nggak kuat. Waktu itu rasanya pengen nyerah.
Capek? Tentu. Tapi, nyerah? GABOLEH YA!
Namun, setelah dipikir-pikir lagi, aku sadar kalau semua itu adalah bagian dari proses belajar.
Dari pengalaman itu aku belajar mengatur waktu, menjaga kondisi tubuh, dan tetap menyelesaikan tanggung jawab meskipun sedang capek. Justru pengalaman itu yang membuat mental aku menjadi lebih kuat dibanding sebelumnya.
Kalau ditanya capek atau nggak, tentu capek. Tapi kalau ditanya nyesel PKL di sana, jawabannya sama sekali nggak.
Aku malah bersyukur bisa ditempatkan di percetakan itu. Selain mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman kerja yang nyata, aku juga dipertemukan dengan bos dan karyawan yang baik, sabar, dan selalu mendukungku.
Pengalaman Tak Terlupakan

Sampai sekarang, pengalaman PKL di percetakan itu masih menjadi salah satu kenangan terbaik buatku.
Memang ada masa-masa capek, lembur, shift malam, bahkan pernah nangis. Tapi semua itu terbayar dengan ilmu, pengalaman, dan kebersamaan yang aku dapatkan.
Aku benar-benar bahagia pernah menjadi bagian dari tempat itu, karena di sanalah aku belajar bahwa dunia kerja bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga tentang belajar, berjuang, dan menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita.
Perjalanan Menuju Mandiri Entrepreneur Center (MEC)
Perjalanan aku menuju Mandiri Entrepreneur Center (MEC) berawal dari minatku di dunia bisnis digital.
Karena itu, saat mendaftar, aku memilih Bisnis Digital sebagai pilihan pertama dan Desain Grafis sebagai pilihan kedua. Aku akhirnya diterima di prodi Bisnis Digital, dan aku memang lebih berharap masuk ke sana karena itulah passion-ku.
Desain Grafis aku pilih hanya sebagai alternatif, bukan karena itu bidang yang benar-benar aku minati.
Aku berangkat menuju MEC pukul 10 malam dengan perasaan campur aduk, antara senang, gugup, dan penasaran dengan kehidupan baru yang akan aku jalani.
Setelah sampai di MEC, ternyata aku mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga.
Pengalaman Saat Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD)

Saat pertama kali mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) di MEC, aku merasa gugup karena harus bertemu dengan banyak orang baru.
Awalnya aku masih canggung dan belum berani banyak berbicara. Kegiatan selama orientasi juga cukup padat, mulai dari pengenalan lingkungan MEC, tata tertib, hingga berbagai materi yang harus kami ikuti.
Walaupun cukup melelahkan, MOPD menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Aku mulai mengenal teman-teman dari berbagai daerah yang ramah dan saling mendukung.
Kami sering bekerja sama dalam setiap kegiatan, sehingga suasana menjadi lebih menyenangkan.
Perlahan Mencoba Berubah Menjadi Lebih Baik
Sebelum pergi ke MEC, aku bukanlah diri aku yang sekarang. Aku jauh dari kata baik dan sering merasa bingung dengan masa depan. Aku harus bagaimana? Aku harus memulai dari mana? Sebenarnya, apa tujuan aku?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus ada di dalam diri aku. Namun, ketika berada di MEC, aku benar-benar menemukan kembali diri aku yang dulu, diri yang selama ini aku pendam dan aku kubur dalam-dalam di dalam diri aku sendiri.
Menemukan Kembali Diri Aku di MEC
Di MEC, aku benar-benar meminta maaf kepada diri aku sendiri karena telah melakukan dosa, mengubur karakter aku, dan menjadi orang lain yang bukan diri aku.
Pengalaman di MEC membuat aku kembali melihat siapa diri aku sebenarnya. Aku mulai memahami hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak aku pahami tentang diri sendiri dan kehidupan aku.
Aku mendapatkan banyak pembelajaran selama berada di MEC. Aku menemukan tujuan hidup aku, menemukan gambaran tentang bagaimana aku ke depannya, dan mulai menata kembali apa yang telah rusak.
Teman-Teman yang Suportif

Salah satu hal yang sangat berarti bagi aku selama berada di MEC adalah bertemu dengan teman-teman yang suportif.
Memang, pada awalnya aku tidak mengenal mereka semua. Mereka adalah orang-orang baru yang tidak mengetahui masa lalu aku. Namun, mereka akan menjadi bagian dari setiap cerita di masa depan aku.
Aku benar-benar seperti menemukan harta karun ketika mengenal mereka. Mereka baik sekali, bahkan sangat baik. Bagi aku, mereka bukan hanya sekadar teman, tetapi sudah seperti keluarga kedua.
Kami saling berbagi cerita, melewati rasa senang dan sedih bersama. Bahkan ketika aku sakit, mereka selalu memastikan bahwa aku baik-baik saja. Ketika aku sedih, mereka memeluk aku. Mereka bahkan menuruti kemauan aku dan meladeni keasbunan aku.
Menjaga Keseimbangan antara Ilmu Akhirat dan Dunia

Di MEC, aku tidak hanya belajar ilmu bisnis dan keterampilan untuk dunia kerja, tetapi juga banyak belajar ilmu agama.
Menurutku, itulah yang membuat MEC berbeda, karena mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.
Selain itu, aku juga bertemu dengan teman-teman yang suportif, saling membantu, dan saling menyemangati.
Selama berada di MEC, aku juga belajar menjadi pribadi yang lebih disiplin, terutama dalam mengatur waktu.
Semua pengalaman yang aku dapatkan membuatku semakin berkembang dan semakin yakin bahwa memilih Bisnis Digital di MEC adalah keputusan yang tepat.
Perlahan Menjadi Lebih Baik
Pengalaman di MEC menjadi bagian penting dalam perjalanan aku untuk menemukan kembali diri sendiri. Di sana, aku mendapatkan pembelajaran, menemukan tujuan hidup, mulai memahami bagaimana aku ingin menjalani masa depan, dan perlahan menata kembali hal-hal yang sebelumnya telah rusak.
Aku juga menemukan orang-orang baru yang menerima aku dan hadir dalam berbagai keadaan, baik ketika aku senang, sedih, maupun ketika aku sedang sakit.
Semua pengalaman tersebut membuat aku ingin terus berusaha menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
Penutup
Kalau melihat kembali perjalanan yang sudah aku lalui, ada banyak hal yang ternyata membentuk diriku sedikit demi sedikit. Mulai dari masa sekolah, pertemanan, pengalaman PKL, sampai perjalanan menuju MEC.
Setiap pengalaman punya cerita dan pelajarannya masing-masing. Ada pengalaman yang membuat senang, ada yang membuat lelah, ada juga yang sempat membuat ingin menyerah. Namun, semua itu tetap menjadi bagian dari perjalanan yang aku jalani.
Dari PKL, aku belajar tentang tanggung jawab, ketelitian, kesabaran, dan bagaimana rasanya berada di dunia kerja secara nyata. Dari pertemanan, aku belajar bahwa komunikasi dan rasa saling percaya itu penting. Sementara di MEC, aku mendapatkan pengalaman baru, belajar tentang Bisnis Digital, belajar ilmu agama, belajar disiplin, dan bertemu dengan teman-teman yang suportif.
Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita hidupku dan membuat perjalanan ini terasa semakin berarti.